BERSANDING DI SATU ATAP: PEMAKNAAN PLURALITAS BERAGAMA DALAM MASYARAKAT DUSUN SODONG, KECAMATAN SAMPUNG, KABUPATEN PONOROGO

Authors

  • Amey Karimatul Fadhilah Universitas Jember Author

Keywords:

Dusun Sodong; Toleransi; Pluralisme

Abstract

Penelitian ini mengaji bagaimana pemeluk agama Buddha dan Islam di Dusun Sodong memaknai agamanya sehingga tercipta kehidupan yang rukun di tengah-tengah masyarakat multiagama. Pemaknaan agama oleh para pemeluknya akan membawa dampak pada perilaku keberagamaan mereka sehingga hal tersebut penting untuk dikaji. Pemaknaan yang inklusif akan memunculkan sikap toleran terhadap yang lain, sebaliknya pemaknaan yang eksklusif akan memunculkan sikap intoleran terhadap yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui awal mula masuknya agama Buddha ke Dusun Sodong; (2) Mengetahui tradisi dan kebudayaan masyarakat Dusun Sodong dalam berdampingan dengan umat Islam; (3) Mengetahui sikap inklusif dan eksklusif antar umat beragama dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data yang diperoleh berasal dari wawancara, observasi langsung, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Agama Buddha merupakan agama pertama yang masuk di Dusun Sodong dengan aliran Buddha Therevada; (2) Budaya dan tradisi agama Buddha dan Islam berjalan beriringan dalam kehidupan sehari-hari, seperti melakukan kidungan, berdoa di punden, mendoakan orang meninggal, serta merayakan Idulfitri maupun Waisak bersama-sama; (3) Inklusifitas pemeluk Buddha tampak pada pemaknaan bahwa semua agama memiliki tujuan yang baik, oleh sebab itu tidak menjadi masalah apapun agama yang dipilih, asalkan bisa membawa kebaikan. Sikap inklusif pemeluk Islam tampak dalam pemaknaan agama yang menitik beratkan pada aspek kemaslahatan bersama. Pemaknaan ini menempatkan perbuatan baik sebagai ruh untuk menciptakan kehidupan yang harmonis.

References

Ardhana, I. K. (2005). Bali dan Dunia Luar: Perspektif Sejarah. Denpasar: Pustaka Larasan.

Geertz, C. (1983). Abangan, Santri, dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya

Gottschalk, L. (1975). Mengerti Sejarah(terjemahan). Jakarta: UI Press.

Gunawan, A. (2016). Pendidikan Agama Buddha untuk Anak: Konsep dan Praktik Sekolah Minggu. Jakarta: Penerbit Samaggi Phala

Hasanuddin, S. E., & Sa'id, H. (2016). Upacara pemakaman dalam perspektif budaya: Studi kasus di beberapa daerah di Indonesia. Yogyakarta: Pers UII.

Kahmad, D. (2006). Sosiologi Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kardi, diwawancarai oleh Amey Karimatul Fadhilah, 28 Desember, 2024.

Kartanegara, M. (2005). Islam dan Multikulturalisme: Sebuah Cermin Sejarah. Surakarta: PSB UMS

Kasim, M. (2013). Tradisi Kidungan sebagai Ekspresi Doa Lintas Agama. Yogyakarta: Penerbit Pendidikan Nusantara.

Koentjaraningrat. (2009). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Krentz, E. (1975). The Historical-Critical Method. Philadelphia: Fortress Press.

Kusuma, I. G. A. (2015). Filsafat dan Ritual Kematian dalam Agama Buddha. Denpasar: Universitas Udayana Press.

Madjid, N. (2007). Islam doktrin dan peradaban: Sebuah telaah kritis tentang masalah keimanan, kemanusiaan, dan kemodernan. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina.

Moleong, L. J. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Prasetyo, D. (2015). Peran Kidung Rahayu dalam Ritual Keselamatan Masyarakat Jawa. Jurnal Antropologi Indonesia, 9(1), 23-35

Saimin, diwawancarai oleh Amey Karimatul Fadhilah, 28 Desember, 2024

Supriyanto. (2012). Transformasi Agama dan Budaya: Studi tentang Agama Lokal dan Budaya di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suratno, diwawancarai oleh Amey Karimatul Fadhilah, 28 Desember, 2024.

Wahyudi, diwawancarai oleh Amey Karimatul Fadhilah, 28 Desember, 2024.

Widyastuti, R. (2015). Tembang dan Kidung Jawa Tengah: Analisis sastra dan budaya. Surakarta: UNS

Wiyata, A. (2002). Komunitas Senyap: Orang- Orang Pinggiran dengan Spirit Multikultural. Yogyakarta: LKiS.

Downloads

Published

2025-12-10

Issue

Section

Artikel